Forester dan Traveler dengan sejuta mimpinya

Forester dan Traveler dengan sejuta mimpinya
Alam ini sangat indah ya Allah, bantu kami menjaganya

Minggu, 29 September 2013

Traveling Sekaligus Belajar di Cagar Alam Kepulauan Krakatau




Cagar alam adalah kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan
tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan
perkembangannya berlangsung secara alami (UU No. 5 Tahung 1990).
Salah satu Cagar Alam yang cukup terkenal dan legendaris adalah Cagar Alam Kepulauan Krakatau yang terletak di Provinsi Lampung.  Tentu saja selain sejarahnya, Kepualauan Krakatau juga memiliki pemandangan yang indah sekaligus sebagai sarana pendidikan yang menarik untuk dikaji.

Sebagai traveler, penulis juga ingin mencoba berbagi pengalaman mengenai perjalanan ke Cagar Alam yang sangat eksotis ini.  Langsung saja, perjalan ke Cagar Alam ini dimulai dari Kota Bandar Lampung menuju Kalianda, Lampung Selatan. Penulis menuju kalianda malam hari karena penulis ingin menuju lokasi pada pagi hari.  Setelah sampai di kalianda, penulis langsung menuju Pantai Canti (20-30 menit dari Kalianda) dan menginap di desa tersebut.

Pagi buta kami berangkat menuju Anak Krakatau sekitar pukul 3.00 pagi karena penulis ingin melihat sunrise di Gunung Anak Krakatau.  Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam dari Pantai Canti.  Kami menyewa perahu masyarakat setempat dengan nominal Rp. 3 jutaan untuk kapasitas maksimal 25 orang selama sehari penuh (Harga sebelum kenaikan BBM).   Dalam perjalanan kita akan melewati beberapa pulau seperti Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi.  Pulau Sebuku belum berpenghuni, sedangkan Pulau Sebesi sudah berpenghuni dan kita bisa mampir ke Sebesi jika ingin snorkeling ataupun belajar transplantasi terumbu karang. Namun karena ingin mengejar sunrise kami tidak sempat mampir dahulu di pulau tersebut.

Sampai di Cagar Alam Krakatau kami langsung disugukan oleh pantai hitam khas gunung berapi.  Sesampainya di lokasi kami langsung mendaki Gunung Anak Krakatau (kurang lebih 30-40 menit tergantung kemampuan individu).  Sebagai gambaran, Pulau Anak Krakatau merupakan pulau kecil yang baru muncul pada tanggal 12 Agustus 1930 ditengah-tengah kaldera lama.  Sejak kemunculannya sampai tahun  1932 telah mulai muncul tumbuhan pioneer dan seedling beberapa spesies tipe pantai tetapi semuanya musnah pada letusan besar pada tahun 1933.  Satwa burung yang dijumpai di Pulau Anak Krakatau seperti Centropus bengalensis, Coprimolgus offnis, Falco severus, Lalage nigra, Tecrycotera relitea, Plegadis sp., Nectarina sp. dan sebagainya (BKSDA Lampung, 2006). Oya satu lagi, Gunung Anak Krakatau tidak terlalu tinggi kok cuma 200-250 mdpl, so semua bisa naik gunung ini, tapi tetep hati-hati kalau bisa pakai sandal atau sepatu yang cukup tinggi karena mayoritas daratan adalah pasir, terlebih di puncaknya.

Pemandangan di atas gunung sangat bagus sob, semua pulau yang mengelilingi Anak Krakatau terlihat seperti Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata. Ya sangat cocok bagi yang suka melihat sunrise dan hunting foto pokoknya. Selesai dengan pemandangannya kami turun lagi dan sarapan di pantai sambil ditemani biawak-biawak Pulau Anak Krakatau (banyak biawak disana sob, ukurannya pun cukup besar-besar).  Sepengetahuan penulis belum ada penelitian tuh sob mengenai biawak yang ada di Anak Krakatau apa endemik atau dari pulau lain, ada yang berminat?

Mulai menjelang siang kami mulai berangkat menuju lokasi yang ke 2 yaitu di Legon Cabe untuk snorkeling, ini merupakan spot yang sangat bagus dan andalan di lokasi tersebut. Jika para Traveler punya alat snorkel bisa dibawa atau menyewa di Pulau Sebesi juga tersedia. Banyak ikan lucu serta karang-karang yang indah yang bisa teman-teman jumpai di spot ini dan dijamin tidak akan menyesal deh. Sore menjelang kami harus mengakhiri petualangan hari itu dan pulang ke Kota Bandar Lampung.

Catatan :
1.     Untuk perizinan masuk ke kawasan konservasi Cagar Alam Kepulauan Krakatau, teman-teman bisa langsung ke BKSDA Lampung yang berada di dekat Bunderan Rajabasa Bandar Lampung, dan surat izin dibawa ketika memasuki kawasan cagar alam.
2.    Untuk penyewaan kapal sudah dipesan beberapa hari sebelumnya, biaya termahal ada di penyewaan kapal, so ajak teman-teman yang lain sampai kuota kapal maksimal terpenuhi dan biaya menjadi lebih ringan.
3.    Jangan buang sampah sembarangan dilokasi cagar alam, karena kondisi keaslian cagar alam harus tetap dijaga.
4.    Untuk teman-teman dari Jakarta dapat menuju ke lokasi Cagar Alam melalui pantai Anyer atau Carita dengan menyewa kapal masyarakat setempat.
5.    Perencanaan perjalanan yang matang akan membuat kita nyaman ber-traveling.
Selamat Berwisata.

jika ingin bertanya boleh kirim email atau coment ya sob.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar