Forester dan Traveler dengan sejuta mimpinya

Forester dan Traveler dengan sejuta mimpinya
Alam ini sangat indah ya Allah, bantu kami menjaganya

Rabu, 09 Oktober 2013

Efektivitas Patroli Gajah (Elephant Patrol) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan



Artikel ini merrupakan laporan Praktik Umum saya ketika berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, namus akan saya ringkas saja agar tidak bosan tapi tidak mengurangi intisari dari apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini.

Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS; 356,800 hektar) di Sumatera merupakan habitat dari mamalia yang paling terancam di dunia yaitu Harimau, Badak dan Gajah Sumatera.  Kawasan BBTNBBS dan satwa liarnya sangat terancam disebabkan oleh perburuan, pembalakan liar dan yang paling serius dari semuanya adalah konversi secara illegal hutan BBTNBBS menjadi areal pertanian dan pemukiman.  Perambahan telah menjadi ancaman yang sangat nyata kedepannya terhadap kerusakan BBTNBBS.

Ancaman perusakan terhadap kawasan BBTNBBS sekarang dan akan datang oleh kegiatan-kegiatan yang illegal (perburuan, pembalakan liar, dan perambahan) masih berpotensi akan tetap berlangsung.  Kegiatan-kegiatan patroli dan monitoring kawasan harus terus dilakukan secara rutin, demikian juga kegiatan pengamanan harus tetap ditingkatkan.

Implikasi biologi dari kegiatan perambahan ini adalah satwa liar akan kehilangan habitatnya, berkurang sumber makanannya, disamping tanaman pertanian akan menarik satwa liar tersebut.  Situasi ini seringkali terjadi konflik manusia dengan satwa terutama gajah.  Konflik umumnya berakhir dengan kematian satwa liar tersebut.

Berdasarkan situasi yang telah disebutkan di atas, baik untuk kepentingan pengamanan kawasan BBTNBBS dengan patroli rutin maupun untuk kepentingan mitigasi konflik gajah dan manusia maka BBTNBBS, BTNWK, Dinas Kehutanan & SDA Kabupaten Lampung Barat, Forum Komunikasi Mahout Sumatera, dan Yayasan WWF Indonesia bekerjasama mengoperasikan satu unit tim patroli yang disebut Elephant Patrol Team (Tim Patroli Gajah) di wilayah Resort Pemerihan.  Laporan ini menginformasikan tentang efektivitas Patroli Gajah (Elephant Patrol) di Resort Pemerihan SPTN Wilayah II Bengkunat Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang telah dilakukan sejak bulan Juli 2009 hingga sekarang.

1.  Latar Belakang Terbentuknya Patroli Gajah (Elephant Patrol)

Konversi illegal atau perambahan di kawasan BBTNBBS masih saja terjadi dan jumlah kawasan yang terkonversi sangat mengkhawaitrkan.  Berdasarkan data BBTNBBS tahun 2004, kawasan BBTNBBS yang dirambah telah mencapai 17% dari total luas kawasan.  Diperkirakan kegiatan perambahan baru masih terjadi sampai saat ini.  Perambahan selain menghilangkan luasa tutupan hutan juga sangat merugikan bagi hidupan liar yang ada di dalam kawasan.  Satwa liar kehilangan tempat mencari makan dan perubahan tutupan lahan pada homerange-nya.  Kondisi ini seringkali menimbulkan konflik antara satwa liar-manusia, terutama gajah yang memiliki wilayah jelajah yang luas.

Kawasan  BBTNBBS memanjang dari Utara ke Selatan mengikuti deretan bukit barisan Pulau Sumatera di bagian Selatan.  Kawasan BBTNBBS mempunyai lebar bidang yang tipis, yang paling tipis sekitar 5 – 10 km.  Sekeliling kawasan BBTNBBS terdapat sekitar 127 desa yang sangat memungkinkan adanya interaksi negatif masyarakatnya ke kawasan BBTNBBS.  Kondisi ini juga mendorong adanya kegiatan-kegiatan pembangunan jalan untuk mempercepat aksesibilitas masyarakat. Pada saat ini telah ada sekitar sembilan  ruas jalan yang menembus kawasan BBTNBBS. Pembangunan jalan ini dikhawatirkan akan mempercepat deforestasi. Dari sembilan ruas jalan yang telah ada, ruas jalan Sanggi-Bengkunat yang menghubungkan Ibukota Kabupaten Tangggamus Kota Agung dengan Daerah Krui di Lampung Barat, kawasan hutan BBTNBBS di kiri-kanan jalan relatif masih bagus.
Berdasarkan situasi di atas, kedepannya ancaman terhadap kawasan BBTNBBS masih akan terus terjadi, sehingga kegiatan-kegiatan penegakan hukum maupun patroli pengamanan kawasan harus selalu dilakukan.  Berdasarkan kondisi ini BBTNBBS bersama Yayasan WWF-Indonesia berinisiatif  mengoperasikan satu tim patroli gajah.  Inisiatif ini juga didukung oleh Balai Taman Nasional Way Kambas yang menugaskan gajah-gajah latih mereka, digunakan untuk patroli, kemudian Dinas Kehutanan dan SDA Kabupaten Lampung Barat, serta dari Forum Komunikasi Mahout Sumatera (FOKMAS) yang membantu operasi tim ini secara teknis.
Tim ini dibentuk dengan tujuan untuk melakukan patroli, mengidentifikasi dan mengamankan kawasan BBTNBBS dari kegiatan-kegiatan illegal (perambahan, perburuan, dan illegal logging).  Kemudian memonitoring pergerakan kelompok gajah yang ada di sekitar wilayah kerja dan membantu masyarakat memitigasi konflik gajah yang terjadi.  Serta mengidentifikasi wilayah patroli dan kegiatan patroli gajah menjadi salah satu objek untuk ekowisata.
Tim ini memiliki wilayah kerja di sepanjang perbatasan kawasan BBTNBBS pada Resort Pemerihan SPTN Wilayah II Bengkunat.  Pos Jaga Pemerihan sekaligus digunakan sebagai camp tim ini.  Lokasi ini sangat strategis, karena konflik manusia dan gajah sering terjadi di sini.  Wilayah ini merupakan tempat relokasi 4 ekor gajah dari Daerah Sekincau akhir tahun 2007.  Pos Jaga ini menjadi salah satu dari dua pos jaga yang menjadi pintu masuk jalan Sanggi-Bengkunat yang menembus kawasan BBTNBBS, sehingga akan dapat memperkuat pengawasan secara langsung kegiatan illegal yang mungkin terjadi di dalam kawasan.
Kawasan BBTNBBS dan satwa liarnya sangat terancam oleh perburuan liar, pembalakan liar, dan yang paling serius dari semuanya adalah konversi secara illegal hutan BBTNBBS menjadi areal pertanian dan pemukiman.  Perambahan telah menjadi ancaman yang sangat terhadap keberadaan BBTNBBS. 

Implikasi biologi dari kegiatan perambahan ini adalah satwa liar akan kehilangan habitatnya.  Satwa liar akan mengalami kekurangan pakan akibat habitat yang rusak.  Pola pertanian masyarakat sekitar kawasan BBTNBBS yang kerap menanam tanaman yang disukai gajah kerap menarik kawanan gajah untuk datang ke area tersebut.  Situasi ini menjadi pemicu terjadinya konflik manusia dan gajah liar.  Konflik yang berujung pada kerugian kedua belah pihak.

Konflik ini sering terjadi di perbatasan BBTNBBS, karena secara alami gajah akan keluar hutan pada periode tertentu mengikuti wilayah homerangenya.  Apabila keluarnya gajah dari kawasan BBTNBBS dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi tentu menimbulkan kerugian masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan BBTNBBS.  Sehingga diperlukan tindakan untuk mengusir kembali gajah tersebut ke dalam kawasan dengan cara-cara yang tidak mencelakai gajah.  Selain itu, monitoring pergerakan gajah dan pencatatan terus menerus periode atau musim keluarnya gajah dari hutan perlu dilakukan.  Sehingga rute pergerakan gajah dan berapa lama berada di suatu tempat dapat diprediksikan.
Tujuan dan hasil yang diharapkan dalam pengoperasian Tim Patroli Gajah ini adalah :
1.      Dilaksanakannya patroli di perbatasan kawasan BBTNBBS pada wilayah kerja yang telah ditetapkan.  Hasil yang diharapkan adanya mekanisme operasi tim yang efektif apabila menggunakan gajah serta didapatkannya data-data kegiatan illegal pada wilayah kerja.
2.      Dilaksanakannya mitigasi konflik gajah yang mungkin terjadi di sekitar wilayah kerja dan termonitornya kondisi 3 ekor gajah yang telah direlokasi sebelumnya serta memasang satelite colar yang baru kepada kelompok gajah di sekitar wilayah kerja.  Hasil yang diharapkan adanya mekanisme mitigasi konflik gajah dengan menggunakan gajah serta didapatkan data-data pergerakan gajah pada wilayah kerja.
3.      Dipersiapkannya sekitar wilayah kerja menjadi lokasi yang spesifik untuk objek ekowisata.  Hasil yang diharapkan adanya penilaian kelayakan menggunakan gajah patroli sebagai objek sites untuk ekowisata pada wilayah
kerja (Tim Patroli Gajah BBTNBBS, 2010).


2.  Dasar Pembentukan


Ujicoba operasional Tim Patroli Gajah ini merupakan kerjasama antara Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS), Balai Taman Nasional Way Kambas (BTNWK), Dinas Kehutanan dan SDA Kabupaten Lampung Barat, Forum Komunikasi Mahout Sumatera, serta Yayasan WWF Indonesia. Kesepakatan Kerjasama tentang ”Uji Coba Mengoperasikan Team Patroli yang Menggunakan Gajah untuk Mengurangi Kegiatan Illegal (perburuan, pembalakan liar, dan perambahan) di Kawasan BBTNBBS dan Mitigasi Konflik Manusia dengan Gajah, tim ini disebut  “Tim Patroli Gajah atau Elephant Patrol Team”, ditandatangani Bulan Mei 2009.  Peran dan tanggungjawab masing-masing pihak yang membuat kesepakatan ini antara lain:
1.        BBTNBBS, Kawasan BBTNBBS menjadi tempat pelaksanaan kegiatan ini.  BBBTNBBS menyediakan polhut yang akan menjadi anggota Team Patroli Gajah dan menjadikan pos jaga Pemerihan sebagai camp team ini.  Serta juga akan mengalokasikan dana untuk mendukung pelaksanaan kegiatan-kegiatan di lapangan.
2.        Balai TNWK, menyediakan gajah-gajah terlatih berserta mahoutnya menjadi bagian Tim Patroli Gajah yang bertugas di kawasan BBTNBBS.  BTNWK juga memastikan gajah-gajah dan mahoutnya yang ditugaskan menjadi anggota tim patroli gajah dalam keadan sehat dan siap melaksanakan tugas patroli di kawasan BBTNBBS.
3.        Dinas Kehutanan dan Sumber Daya Alam Kabupaten Lampung Barat, Mensosialisasikan maksud dan tujuan pengoperasian TPG kepada masyarakat dan stakeholder terkait.  Serta juga akan mengalokasikan dana untuk mendukung pelaksanaan kegiatan-kegiatan di lapangan baik pada sata ujicoba maupun nanti apabila waktu operasi tim ini diperpanjang.
4.        Fokmas, merupakan forum yang dibentuk oleh mahout-mahout gajah yang terdapat di sumatera sebagai wadah komunikasi.  Fokmas merekomendasikan mahout dan gajah yang cocok melaksanakan tugas ini.  Membantu pelaksanaan kegiatan mitigasi konflik manusia dan gajah bersama tim patroli gajah.
5.        WWF-Indonesia,  WWF menyediakan dana dengan jumlah yang terbatas untuk dapat mengoperasikan tim ini, serta membangun mengembangkan mekanisme operasi team yang efektif baik untuk patroli kawasan maupun mitigasi konflik manusia dengan gajah (Tim Patroli Gajah BBTNBBS, 2010).


3. Kegiatan Patroli Gajah 

Patroli Gajah adalah kegiatan pengawasan dan monitoring kawasan dengan menggunakan bantuan gajah latih yangPatroli kawasan adalah kegiatan rutin pengamanan, pengawasan dan monitoring kawasan terhadap kegian-kegiatan illegal seperti perambahan, perburuan dan pembalakan liar. Dengan adanya monitoring secara rutin, maka dapat diidentifikasi kegiatan illegal yang sedang berlangsung di dalam kawasan.
Patroli gajah dilakukan dengan cara menyusuri wilayah di sepanjang perbatasan BBTNBBS dengan menggunakan gajah maupun dengan berjalan kaki. Secara umum ada dua arah wilayah kerja patroli yang telah dilakukan yaitu :
a.       Melakukan patroli rutin dengan menggunakan gajah ke arah Barat Daya dari pos jaga Pemerihan sepanjang 9 km menuju pantai ke arah Muara Pemerihan;
b.      Melakukan patroli rutin dengan menggunakan gajah ke arah Barat Laut dari pos jaga Pemerihan sekitar 12 km menuju daerah Bengkunat.
Selama pelaksanaan kegiatan patroli gajah ini, tim telah melakukan perjalanan ke seluruh wilayah kerja, baik ke arah pantai sepanjang 9 km dan ke arah bengkunat sepanjang 12 km. Selama melakukan patroli, tim selalu memperhatikan kondisi cuaca dan situasi yang ada di lapangan. Apabila kondisi tersebut tidak dimungkinkan dilewati oleh gajah maka tim dapat melakukan patroli kawasan tanpa menggunakan gajah, yaitu dapat menggunakan kendaraan bermotor atau berjalan kaki.
Peta Rute Elephant Patrol Juli-Agustus 2012
Kegiatan patroli dapat dilakukan selama satu hari atau lebih dari satu hari (1-2 minggu) di lapangan. Penentuan lamanya patroli dapat didasarkan pada target operasi, kondisi lapangan dan jarak tempuh lokasi operasi. Apabila akan dilakukan operasi di wilayah dekat dengan pos jaga, maka dapat dilakukan patroli selama satu hari kerja, namun apabila jarak lokasi operasi jauh dari pos jaga maka diperlukan bermukim di sepanjang batas kawasan untuk mencapai wilayah kerja. Jarak tempuh patroli menggunakan gajah bervariasi, tergantung dari jarak wilayah yang akan dilakukan patroli. Jarak tempuh perhari rata2 mencapai 5-8 km per hari. Dengan melakukan patroli secara rutin, gajah patroli  banyak mendapatkan makanan yang bervariasi selama di perjalanan dan dengan berjalan rutin dapat mencegah gajah dari penyakit kuku.



4. Hasil Patroli Gajah 


Tim Patroli Gajah yang mulai beroperasi pada awal bulan Juli 2009 sampai saat ini. Semua wilayah yang menjadi target kerja telah termonitoring dan teridentifikasi. Hasil yang didapat dengan adanya Tim Patroli Gajah ini sangat baik. Telah banyak kegiatan-kegiatan illegal yang teridentifikasi, baik perambahan, perburuan dan illegal logging.


Peralatan yang dipakai ketika Elephant Patrol
Lokasi perambahan yang telah teridentifikasi oleh Tim Patroli Gajah di area kerja berjumlah total 727,8 Ha.  Dari total luasan tersebut sekitar 406,5 Ha statusnya adalah pemukiman liar, sedangkan 321,2 Ha lainnya adalah areal perambahan yang telah dibersihkan oleh Tim patroli Gajah (Tim Patroli Gajah BBTNBBS, 2010). 


Pada awal kedatangan tim ke lokasi, areal perambahan masih terawat dengan baik bahkan tanaman perambahan seperti kakao dan kopi tumbuh dengan baik. Namun sejak dilakukan patroli, lokasi tersebut sudah ditinggalkan, dapat dilihat dari kebun yang sudah tidak terawat. Selain itu juga tim ikut membantu mengamankan kawasan dari pencurian hasil damar dari dalam kawasan. Selama melakukan patroli tim telah berhasil menggagalkan salah satu pencurian damar batu dari dalam kawasan.


Selain perambahan, tim juga telah banyak melakukan pemusnahan jerat satwa di dalam kawasan, dan juga telah mengidentifikasi salah satu perburuan gajah yang ada di dalam kawasan. Oleh karena itu patroli rutin secara berkelanjutan sangat membantu pihak Taman Nasional untuk mengamankan kawasan dari kegiatan illegal.

Areal perambahan yang telah diidentifikasi oleh Tim Patroli Gajah terdapat 43 lokasi perambahan pada area kerja TPG, dengan luas lahan yang dirambah 44 ha. Berkat kerja keras tim, lokasi perambahan telah ditinggalkan oleh perambah, hampir 80% total area perambahan telah ditinggalkan oleh perambah dan sudah tidak dirawat lagi kebunnya. Total area yang telah ditinggalkan perambah adalah 37 ha.

Selama Melakukan kegiatan patroli rutin di lapangan, tim juga mengidentifikasi keberadaan satwa liar yang ada di kawasan BBTNBBS, antara lain Gajah liar, Harimau, Kijang, Ular, Babi Hutan, Burung Rangkong, serta masih banyak satwa-satwa lainnya. Hal ini tentunya sangat menarik, betapa istimewanya kehidupan liar yang dimiliki oleh BBTNBBS.  Keberadaan satwa yang tetap terjaga dapat menjadi indikator keberhasilan adanya keberadaan Patroli Gajah (Elephant Patrol) di resort ini memberikan dampak yang baik bagi keberlangsungan ekosistem kawasan.

Selain dapat mengurangi kegiatan-kegiatan ilegal dalam kawasan, patroli gajah  juga mengidentifikasi dan mendata keberadaan gajah liar.  Gajah liar yang teridentifikasi oleh tim patroli pada tahun 2009 terdapat 2 kelompok gajah liar, satu kelompok berjumlah 11 gajah, dimana dalam kelompok ini tergabung 3 ekor gajah liar betina yang merupakan hasil relokasi pada tahun 2007.  Kedua adalah kelompok gajah liar yang berjumlah 4 ekor, 3 induk betina dan 1 ekor anak jantan. Sehingga total gajah yang telah teridentifikasi ada 15 ekor.  Selain dari 15 ekor diatas, tim juga menemukan seekor anak gajah liar jantan yang kehilangan induknya yang pada saat ini telah anak gajah liar tersebut telah bergabung dengan gajah Tim Elephant Patrol (Tim Patroli Gajah BBTNBBS, 2010)Kini pada tahun 2012 jumlah tersebut kian bertambah hingga total gajah liar yang terpantau sekitar 35-40 ekor.  Hal ini tentu tidak lepas dari peran Patroli Gajah (Elephant Patrol) yang berusaha memantau dan menjaga gajah tersebut terutama ancaman dari luar kawasan.

5. Mitigasi Konflik Manusia dengan Gajah

Mengurangi konflik manusia dan gajah yang terjadi di wilayah kerja merupakan salah satu tujuan dibentuknya tim patroli gajah.  Karena konflik manusia dan gajah yang terjadi seringkali menimbulkan kerugian materi maupun jiwa masyarakat.  Selain itu konflik juga mengakibatkan kematian gajah.
Untuk mengatasi konflik tim patroli gajah diharuskan memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada masyarakat cara-cara mengurangi konflik secara tepat dan baik, tanpa melukai gajah liar dan masyarakat yang melakukan kegiatan penanganan konflik gajah juga aman.  Selain bersama-sama masyarakat setempat mengurangi konflik, tim juga memberikan bantuan peralatan untuk mengusir gajah seperti meriam paralon dan kembangapi.
Kegiatan mitigasi konflik manusia dan gajah dilakukan pada saat patroli.  Apabila diketahui gajah liar berada di luar habitatnya, tim akan mengusir gajah tersebut kembali ke dalam kawasan BBTNBBS menggunakan gajah patroli.  Tindakan  mitigasi konflik juga dapat dilakukan oleh anggota tim tanpa menggunakan gajah apabila pengusiran gajah liar kembali ke habitatnya tidak memungkinkan, misal pada malam hari.  Berhati-hati dan waspada adalah prinsip yang harus dipegang oleh anggota tim dalam penanganan konflik, karena seringkali konflik terjadi pada malam hari dan sangat berbahaya.
Mengantisipasi terjadinya konflik manusia dan gajah dapat dilakukan monitoring  pergerakan gajah.  Salah satunya adalah memasang GPS satellite colar pada kelompok gajah yang sering berkonflik dengan masyarakat.  Selama dilakukannya kegiatan ini, pemasangan satellite colar telah dilakukan pada Bulan Desember 2009.  Pemasangan dilakukan oleh Tim Patroli Gajah dibantu oleh dokter hewan dengan menangkap satu ekor gajah liar dengan cara dibius, memasang satellite colar, dan melepaskan kembali ke habitatnya.  GPS Satellite colar yang telah terpasang pada gajah, akan memberikan informasi keberadaan gajah tersebut, sehingga konflik yang akan terjadi dapat segera diketahui untuk dilakukan tindakan-tindakan mitigasi yang diperlukan.  Kini kondisi GPS satellite colar tersebut telah kehabisan baterai (masa pakai baterai 2 tahun) sehingga kelompok gajah yang ada dalam kawasan tidak terpantau sejak tahun 2011 (Tim Patroli Gajah BBTNBBS, 2012).
Kegiatan mitigasi konflik yang dilakukan selama ini oleh tim di lapangan direspon sangat positif oleh masyarakat sekitar kawasan. Dengan adanya keberadaan tim di Pemerihan, masyarakat memiliki tempat pengaduan dan meminta tolong ketika konflik sedang terjadi. Tim dengan sigap dan cepat segera bergerak ke lapangan untuk membantu warga dalam hal penanganan konflik gajah. Tim juga membantu masyarakat dalam melatih teknik pengusiran yang benar, membantu memberikan bantuan kembang api. Permintaan bantuan juga dilampirkan melalui surat dari kepala pekon di sekitar untuk meminta bantuan mitigasi konflik manusia dan gajah.
Ketika konflik sering muncul di luar kawasan, hal ini menandakan bahwa home range gajah liar sedang berada pada perbatasan kawasan.  Mitigasi yang dapat dilakukan selanjutnya adalah dengan menggiring dan mendorong gajah-gajah liar untuk masuk ke dalam kawasan lebih jauh lagi dengan menggunakan gajah latih yang dimiliki tim Patroli Gajah.  Tim ini menyusuri jejak gajah liar yang dekat dengan perbatasan kawasan lalu mengikuti dan mengejar kelompok gajah liar.  Ketika sudah bertemu dengan gajah liar tim akan menggorong serta mendorong kelompok gajah liar untuk masuk lebih dalam lagi ke dalam kawasan dengan harapan gajah tidak keluar dari kawasan.

6. Identifikasi Objek Wisata

Salah satu tujuan dari dibentuknya tim Elephant Patrol ini adalah untuk mengidentifikasi lokasi yang cocok untuk objek Ekowisata. Kegiatan ini dilakukan ketika melakukan patroli kawasan, tim juga turut serta mencari dan mengidentifikasi lokasi-lokasi yang sangat potensial untuk objek Ekowisata. Identifikasi ini sangat bermanfaat kedepannya dalam pembuatan desain ekowisata BBTNBBS. Dengan teridentifikasinya lokasi tersebut, maka diharapkan nantinya akan ada rekomendasi untuk mengenalkan keindahan alam yang ada di BBTNBBS kepada wisatawan baik lokal maupun internasional. Nantinya hal ini dapat berguna juga menciptakan “Sustainable Livelihood” untuk masyarakat yang tinggal di zona penyangga BBTNBBS. Selain itu juga untuk mengenalkan kepada masyarakat luas akan pentingnya menjaga keindahan dan kelestarian hutan di Indonesia, dapat juga mengenalkan pendidikan konservasi hidupan liar bagi generasi muda kedepannya melalui ekowisata ini. 
Salah satu daya tarik wisata yang mulai dirintis sejak awal terbentuknya patroli gajah adalah safari gajah.  Safari gajah digagas dalam rangka mencari bentuk pengembangan wisata yang merupakan satu dari empat tugas pokok Elephant Patrol Team – BBTNBBS. 






7.  Efek Eksternalitas Patroli Gajah

Efek eksternalitas merupakan dampak tidak langsung atau secara tidak direncanakan sebelumnya yang terjadi pada suau kegiatan dan biasanya dampak ini secara umum bersifat negatif.  Dampak negatif atau efek eksternalitas dari keberadaan Patroli Gajah sebenarnya cukup kecil yaitu:

a.       Merusak ekosistem kawasan daerah penyangga
Hal ini sebenarnya bukanlah masalah besar namun memang perlu mendapat perhatian karena gajah latih dewasa memerlukan makan  + 200 kg rumput segar.  Dapat dibayangkan 4 gajah dewasa setiap hari memerlukan + 800 kg rumput dan kondisi ini menyebabkan kawasan sekitar tempat diikatnya gajah-gajah latih akan mengalami kerusakan lahan.  Selain itu pohon-pohon yang ada disekitar juga sering dirobohkan oleh gajah latih ketika digembalakan pada daerah yang memiliki vegetasi cukup rapat.  Pohon-pohon yang dirobohkan adalah pohon-pohon dengan diameter sedang (10-30 cm).  Hal ini dapat disiasati dengan mengganti tempat makan gajah secara periodik dari satu tempat ke tempat lain secara berkala sehingga siklus kehidupan rumput yang disukai oleh gajah dapat kembali tumbuh dan dimanfaatkan untuk pakan gajah latih kembali.  Cara lain yang dapat juga dilakukan adalah memberikan stok pakan gajah setiap harinya sehingga gajah tidak perlu digembalakan untuk mendapatkan pakan, namun hal ini memang membutuhkan biaya yang cukup tinggi mengingat banyaknya rumput yang diperlukan untuk ke 4 (empat) ekor gajah. 
b.      Ketidakteraturan lokasi konflik gajah liar yang keluar kawasan.
Menurut hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa kini gajah liar yang keluar dari kawasan memiliki banyak titik keluar yang sulit untuk diprediksi dan tidak seteratur dahulu yang hanya keluar pada beberapa titik konflik saja.  Pendapat dari berbagai sumber menjelaskan bahwa gajah latih dalam tim Patroli Gajah menyababkan jalur keluar gajah liar yang keluar kawasan tidak teratur lagi.  Ada kemungkinan rute Patroli Gajah yang dilakukan secara rutin dilakukan menyebabkan berubah-ubahnya lokasi keluarnya gajah liar saat ini atau  karena populasinya yang terus meningkat sehingga titik-titik keluar gajah semakin meningkat, atau memang sumber pakan yang disukai gajah liar berada ditempat berbeda-beda.  Hal ini sangat menarik belum terbukti secar ilmiah, butuh penelitian lebih lanjut akan kebenarannya.
Kegiatan Patroli Gajah dalam garis besar sudah memenuhi tugas utama yang telah diamanatkan yaitu menekan kegiatan-kegiatan illegal, mitigasi konflik manusia dan gajah liar serta identifikasi dan pengembangan ekowisata.  Dari hasil observasi dan wawancara dari berbagai pihak menunjukkan kinerja patroli gajah sangat baik dan efektif dalam mengembantugas tersebut.  Kinerja ini dapat terus meningkat dan semakin baik jika terus didukung oleh para pemangku kepentingan (stakeholder) dengan meningkatkan sarana dan prasarana yang ada serta tidak kalah pentingnya adalah peningkatan sumber daya manusia (SDM) tim Patroli Gajah.
Tidak hanya bergelut dalam penanganan konflik, tim Patroli Gajah juga juga mencoba membantu mengembangkan ekowisata dengan mengidentifikasi potensi kawasan tentu saja dengan melibatkan gajah latih sebagai objek utama yang ditawarkan dengan bentuk wisata safari gajah.  Hal ini pernah dilaksanakan dan diberhentikan sementara karena penentuan waktu untuk safari gajah yang sulit dan sering bertabrakan dengan jadwal patroli yang sudah rutin dilakukan, aturan main yang belum jelas dalam arti peraturan yang mengatur ekowisata di resort ini belum ada serta hal-hal lainnya yang membuat ekowisata ini belum bisa dilanjutkan kembali.  Kedepan ekowisata safari gajah ini akan dikembangkan dengan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan sehingga masyarakat juga akan memperoleh dampak ekonomi yang nyata dari keberadaan suatu Taman Nasional (TN).



KESIMPULAN DAN SARAN



Dari hasil pengamatan yang dilakukan maka dapat di simpulkan bahwa:
1.      Latar belakang dibentuknya Patroli Gajah (Elephant Patrol) adalah untuk membantu menekan kegiatan-kegiatan ilegal di dalam kawasan, mitigasi konflik gajah liar dan manusia, monitoring gajah liar, dan identifikasi pengembangan ekowisata dalam kawasan.
2.      Dasar pembentukan Patroli Gajah (Elephant Patrol) merupakan kerjasama banyak pihak seperti Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS), Balai Taman Nasional Way Kambas (BTNWK), Dinas Kehutanan dan SDA Kabupaten Lampung Barat, Forum Komunikasi Mahout Sumatera,serta Yayasan WWF Indonesia.
3.      Kegiatan Patroli Gajah (Elephant Patrol) sangat efektif karena sudah sesuai dengan tujuan di bentuknya tim ini.
4.      Patroli Gajah (Elephant Patrol) sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi ekowisata serta dapat memberdayakan masyarakat yang ada di sekitar kawasan.

Adapun saran yang ingin diberikan penulis adalah:
1.      Waktu dilaksanakan Patroli Gajah hendaknya lebih diperbanyak intensitasnya dengan waktunya patroli tidak beraturan (random) sehingga masyarakat tidak mengetahui kapan dilakukannya patroli.
2.      Pelatihan resmi rutin kepada tim patroli gajah untuk menambah wawasan dan pengalaman anggota tim.
3.      Meningkatkan sarana dan prasarana di lapangan, untuk kelancaran kegiatan patroli.
4.      Dilakukannya penelitian mengenai ketidakteraturan lokasi keluarnya gajah liar, apakah karena jalur tim Patroli Gajah, atau dikarenakan jumlah kelompok gajah liar yang semakin banyak jumlahnya, atau memang sumber pakan yang disukai gajah lair berada ditempat berbeda-beda.




DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kehutanan. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Departemen Kehutanan. 2008. Pedoman Penganggulangan Konflik antar Manusia dan Satwa Liar Peraturan Menteri Kehutanan No.P.48/Menhut-II/2004. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Subki. 2010. Laporan Kegiatan Evaluasi Terhadap Uji Coba Pengoprasian Tim Patroli Gajah di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. TNBBS. Lampung Barat.
Tim Patroli Gajah BBTNBBS. 2010. Laporan Evaluasi Kegiatan Elephant Patrol Team. Kota Agung. Lampung.
Tim Patroli Gajah BBTNBBS. 2012. Laporan Evaluasi Kegiatan Elephant Patrol Team. Kota Agung. Lampung.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar